Second Letter 5. Terungkap



5. Terungkap


Hampir setiap hari pasti ada satu chat dari Biyan atau aku duluan yang memulai percakapan, hanya untuk menanyakan apakah kita bermain bersama hari ini? Tanpa disangka, ini mulai jadi kebiasaan baru bagiku mengganggunya. Game yang tadinya ku pikir hanya untuk mengisi kekosongan hariku, malah kugunakan sebagai alasan dekat dengannya. Tapi seperti pada awalku, bukan untuk mendekatinya karena aku mengharapkan lebih, tapi aku ingin bisa menjadi temannya.

Pernah suatu kali kami bermain game menggunakan Chat Voice, itu salah satu fitur suara yang disediakan dalam game, dan itu pertama kalinya aku mendengar suara Biyan. "Ah! Jadi seperti ini suara Biyan... Gak sangka aku bisa mendengar suaranya seperti ini." jeritku dalam hati. Aku sangat menikmati saat-saat itu, cukup aku saja yang tahu , Biyan tidak perlu tahu.

Bagiku, cukup seperti itu saja tanpa perlu Biyan tahu apapun, biarlah aku saja yang merasakan semuanya. Lagi pula aku sudah terbiasa hidup dalam imajinasiku saja, kegagalan hubungan sebelumnya membuatku sedikit trauma untuk memulai sesuatu yang baru, jadi aku tidak sampai memikirkan untuk memulainya lagi bahkan dengan Biyan sekalipun, terlebih lagi aku masih takut jika saja Biyan tahu siapa aku, rasanya pasti memalukan.

Biyan pernah bertanya bagaimana awal mula aku dan dia bisa saling berkomunikasi, aku menjelaskannya bahwa aku hanya menambahkannya sebagai teman di contactku, awalnya aku berdalih hanya karena ingin memenuhi contact saja, tapi percakapan selanjutnya beralih dari sekedar chatting menjadi sebuah panggilan telepon.

Rasa penasaranku semakin menjadi, banyak sekali pertanyaan yang ingin aku ajukan kepada Biyan menyangkut kehidupan pribadinya sampai akhirnya aku pikir lebih baik jujur saja dari pada berlanjut terus seperti ini, setidaknya Biyan bisa tahu bagaimana aku mengenalnya, aku juga tidak tahu kenapa akhirnya aku memutuskan untuk bilang hal yang memalukan ini, aku katakan bahwa aku mengenalnya karena aku adalah teman Merry. Dan tanggapan Biyan cukup sederhana, "Oh, baiklah sekarang gua paham.. hehehe", jawabannya membuatku cukup lega.

Dan sejak saat itu percakapan kami tidak hanya soal game melulu, tapi kadang juga menceritakan hal lain seperti hobi kami yang sama-sama suka membaca buku, atau saat aku butuh teman bicara aku akan mengganggunya dan bercerita panjang lebar tentang apa yang sedang aku rasakan. Benar-benar menyenangkan, aku tidak menduga bisa jadi sedikit lebih dekat dengannya, menjadi teman bicaranya meskipun belakangan komunikasi kami mulai tidak berjalan baik.



to be continue...



Writer : Hanabi Dewi


Terima Kasih Sudah Berkunjung dan Membaca Artikel ini ya ^^

0 comments:

Post a Comment